Safar: Lebih dari Sekadar Jalan-Jalan, Ada Ibadah di Setiap Langkah

Published via Headless CMS Bridge • Shared via Google Sheets

Wisata seringkali dianggap sebagai kegiatan duniawi semata. Namun dalam Islam, bepergian atau safar memiliki dimensi spiritual yang sangat dalam. Imam Syafi’i, salah satu ulama besar mazhab, bahkan menggubah syair indah tentang betapa pentingnya meninggalkan zona nyaman untuk melihat dunia.

Jika aktivitas ini dikombinasikan dengan niat membahagiakan keluarga, maka wisata berubah menjadi ladang pahala yang berlipat ganda.

5 Manfaat Safar Menurut Imam Syafi’i
Dalam karyanya, Imam Syafi’i menyebutkan lima manfaat besar bagi seseorang yang melakukan perjalanan:

Tafariju Hammin (Menghilangkan Kebingungan/Stres) Dunia ini luas. Melihat pemandangan baru membantu melepaskan beban pikiran dan kepenatan hidup.

Iktisabu Ma’isyatin (Mencari Penghidupan) Safar membuka peluang rezeki. Banyak orang mendapatkan inspirasi bisnis atau relasi baru saat sedang bepergian.

Iktisabu ‘Ilmin (Menambah Wawasan/Ilmu) Pengalaman adalah guru terbaik. Dengan mengunjungi tempat baru, kita belajar sejarah, budaya, dan kearifan lokal yang tidak ada di buku.

Adab (Mempelajari Tata Krama) Bertemu dengan berbagai jenis orang mengasah empati dan kesantunan kita dalam berinteraksi.

Suhbatu Maajidin (Berteman dengan Orang Mulia) Perjalanan mempertemukan kita dengan tokoh-tokoh hebat atau teman-teman baru yang saleh dan inspiratif.

Dalil Penguat: Mengapa Kita Harus Melangkah?
Anjuran untuk bepergian juga ditegaskan dalam Al-Qur’an dan Hadis sebagai sarana untuk merenungi kebesaran Sang Pencipta.

1. Perintah Tadabbur Alam
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Ankabut: 20:

“Katakanlah, ‘Berjalanlah di bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah memulai penciptaan (makhluk), kemudian Allah menjadikan kejadian yang akhir…'”

Wisata yang diniatkan untuk melihat keindahan ciptaan-Nya disebut sebagai Tadabbur Alam, yang merupakan salah satu bentuk zikir tingkat tinggi.

2. Manfaat Kesehatan dan Keuntungan
Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadis:

“Bepergianlah (safar), niscaya kalian akan sehat dan memperoleh keuntungan (ghanimah).” (HR. Ahmad).

Membahagiakan Keluarga: Wisata yang Menjadi Sedekah
Islam sangat menjunjung tinggi kemuliaan dalam memperlakukan keluarga. Mengajak istri dan anak-anak berwisata bukan sekadar menghabiskan uang, melainkan investasi akhirat.

Pahala Memberi Kesenangan: Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya.” (HR. Tirmidzi). Menyenangkan hati anggota keluarga adalah bentuk amal saleh.

Nilai Sedekah dalam Nafkah: Harta yang dikeluarkan untuk keperluan rekreasi keluarga yang halal dihitung sebagai sedekah. Bahkan, dalam sebuah hadis disebutkan bahwa satu suapan makanan yang diberikan suami ke mulut istrinya bernilai pahala. Bayangkan jika itu adalah satu paket perjalanan yang membahagiakan mereka.

Catatan Penting: Agar wisata keluarga bernilai ibadah, pastikan tempat yang dituju tidak melanggar syariat, tetap menjaga waktu salat, dan diawali dengan doa safar.

Kesimpulan
Safar bukan hanya tentang berpindah tempat, tapi tentang berpindah sudut pandang. Dengan mengikuti nasihat Imam Syafi’i dan niat yang tulus untuk memuliakan keluarga, setiap kilometer yang kita tempuh dan setiap rupiah yang kita keluarkan untuk tiket perjalanan bisa menjadi saksi kebaikan di akhirat kelak.